Nggak sabar rasanya sampai harus menunggu jam tujuh malam tiba. Mood ku seketika langsung berubah sejak diakhirinya rapat itu. Aku butuh teman cerita. Dan satu-satunya orang yang nyambung dan enak untuk diajak bercerita masalah creative adalah abang kedua ku, Iyeq dan sahabat ku Melissa. Namun, lagi-lagi kedua orang tersebut tidak bisa diganggu jam segini. Mungkin ada yang bertanya, "Apa udah coba ditanya?" Belum sih. Tapi aku tau jadwal mereka. Abangku sedang tekunnya mendengarkan dosen berceloteh (mungkin) dan sahabatku sedang asyik-asyiknya menguap mendengarkan tentor bermain-main dengan spidol dan papan tulis (mungkin). Salah satu yang paling mungkin mendengarkan semua keluh kesah ku tanpa harus terjadi perdebatan diantara kami adalah si day by day. Terimakasih ku ucapkan. Baik sekali. Setia kau mendengarkan semua keluh kesah ku yang ibu ku saja tak tahan mendengarnya. Sampai-sampai untuk menghentikan pembicaraan dengan ku dia harus berbohong kalau ada polisi lewat. Dan bodohnya aku, langsung berpaling kesekitar dimana polisi itu berada. Jelas-jelas aku tau, kami berdua sedang berada di kamar. Ya begitu lah aku. Aku tidak perduli apapun yang terjadi disekitar ku disaat aku betul-betul ingin meluapkan isi hati ini. Yang penting, benang-benang kusut yang tersangkut di jantung ini dapat ku keluarkan, dan berharap dapat diluruskan oleh teman bicara ku. Jadi begini ceritanya. Aku baru saja bangun dari tidur ku di kelas, tiba-tiba dua orang teman ku (cewek) berdiri di depan kelas mengumumkan sesuatu. Dia Titin, sekretaris kelas, dan Stephanie pelengkap penderita. Sama seperti ku, tidak punya jabatan di kelas. Bedanya, aku orang nomor satu dikelas (wali kelas ku bilang begitu). "Kenapa?" Aku ranking satu dikelas. Ehem. Nggak sombong, cuma angkuh aja. Hehe. Becanda. Dan Stephanie? Ah sudah lah, tak baik membicarakan orang sebegitu detailnya disini. Back to the topic. Buku tahunan. Serius? Mau ada buku tahunan? Amazing! Jelas aku kaget. Kamu tau? Sekolah ku tidak pernah mengadakan buku tahunan atau album kenangan dan sejenisnya. Aku selalu iri sama sekolah-sekolah lain yang guru dan murid-muridnya pada solid. Tidak seperti sekolah ku, banyak sekali kubu-kubu. Banyak tembok-tembok pemisah, yang tidak jelas apa penyebabnya. Lagi-lagi terbentur di dana. Aneh, mau yang super bagus tapi dana minim. Siapa coba yang nggak mau konsep seperti itu. Hello... kita berada di dunia nyata, bukan di negeri dongeng, yang apapun tinggal bilang ibu peri, voila, semua sudah ada didepan mata. Sampai mengedipkan mata mu pun kau tak sanggup sanking takjubnya. Ah, tak sanggup aku menceritakan ini, terlalu sakit rasanya. Penasaran. Apa sih yang ada dihati dan pikiran kalian sehingga tega bersikap tidak sopan dan bikin malu demikian? Apa sih yang ada dihati dan pikiran kalian? Apa betul 24 jam sehari kalian belajar sampai-sampai tak punya waktu untuk membuat design kelas kalian? Kalian anak kelas sosial kan? Sulit ya mutar otak gimana caranya buat ngedapetin uang? Jadi apalah yang kalian pelajari selama ini? Aku bukan berasal dari keluarga kaya raya. Gaji bapakku hanya 2juta rupiah saja. Tapi tak pernah aku terlambat membayar uang sekolah ku, uang les ku, dan tidak pernah terlintas dipikiranku untuk sanggup memakan uang sekolah dan uang les ku, berfoya-foya diluar sana. Sehingga aku sanggup bilang bahwa uang tak jadi masalah bagi ku. Karena apa? Karena aku tidak pernah membuat orangtua ku susah. Mereka percaya menitipkan uangnya padaku dan ku jaga rasa percaya itu, jadi berapa pun yang kuminta selama itu masih berada dibatas kewajaran, mereka tidak pernah tidak meberikannya padaku. Kesal aku. Alasan kalian tidak masuk akal sehat ku. Kalian sanggup meghabiskan uang 500ribu untuk voucher game online dan rokok, tapi tak sanggup menghabiskan uang 119ribu untuk buku tahuanan yang keren kali. Dan kau tau? Kalau saja butah itu terlaksana, butah kita akan menjadi butah paling keren sekota Medan. Dan kau kribo, tidak bisakah kau menghargai orang? Sebegitu RENDAHnya kah kau, sampai hati kau bersikap kurang ajar seperti itu terhadap orang yang lebih tua dari kau? Orang kaya macam apa kau! Yang ku tau, orang kaya selalu identik dengan kepribadian yang baik, pengetahuan yang luas, nggak kolot kayak kau! Sangat tidak senang berjumpa dengan mu. Dan kau Mostow, aku tidak takut sama sekali atas ancamanmu! Kau pikir kau siapa? Maaf, aku terlalu keras untuk kau lawan, sekalipun aku perempuan.
Tak sanggup aku menceritakannya lebih detail lagi. Aku pengen ngamuk. Aku benci kalian. Jujur. Tiga tahun aku pengen bisa megungkapkan rasa benci ini. Maafkan aku. Tapi aku tak pernah suka dengan sekolah itu dan kawanannya. Sekian.
xx
5 comments:
I love how you described your feeling. Nice post :)
be patient, honey.. just a month to go and you'll be free :)
just pray, it'll reduce your anger :)
stay positive golda ~ those who never care are never really important. just be true to yourself and those who love you.
:)
hi golda... beberapa org memang selalu tampil menyebalkan. biarkanlah rumput bergoyang dan anjing menggonggong.
@tiffany : hehe thanks! :)
@phine : i'll dear :)
@claradevi : hihhi alright kak :D
@maya : yoyoy kak :)
Post a Comment